Diajengbeth’s Blog

April 20, 2011

ketika saya sedang tidak bersama Ranger Merah

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 5:37 am

Ranger Merah adalah nama yang saya berikan kepada motor bebek keluaran Jepang yang sudah menemani saya selama beberapa tahun ini. Saya dan adik saya sepakat memberi nama Ranger Merah karena kami adalah Changcut Rangers (fans yang ter edan-edan sama band The Changcuters). Changcut Rangers mengandarai Ranger Merah. Terdengar sangat gagah.

Namun sudah 11 hari terhitung dari tanggal 9 April 2011 lalu, saya tidak bisa melalui hari-hari indah saya bersama Ranger Merah. Semua ini karena saya dan Ranger Merah terjatuh ketika dalam perjalan pulang dari Jogja. Ada pengendara sepeda motor lain yang tiba-tiba membelok tanpa melihat kaca spion dahulu (beranggapan bahwa kita mempunyai dua mata sakti di belakang kepala dapat membahayakan kesehatan orang lain, camkan itu!!)

Ibarat Kesatria Baja Hitam yang terpisah dengan Belalang Tempurnya, saya merasa terpuruk tak berdaya *nangis darah*. Selama bebarapa hari saya hanya bisa beraktivitas di dalam rumah karena tangan dan kaki saya terluka. Lalu apa yang saya lakukan ketika saya tidak bersama Ranger Merah?

saya memeriksakan diri ke dokter dan bisa meminum obat dengan sukses

Selama 24 tahun saya hidup di dunia, Bodrexin dan Contrexin adalah dua-dua nya obat yang sangat bersahabat dengan saya. Mereka sangat mengerti kepribadian saya yang sangat manis. *meluk Bodrexin sama Contrexin*. Segala macam bentuk ataupun ukuran obat, selama namanya masih OBAT, saya tidak bisa meminumnya. Namun kemarin, semua berubah. Ya, berubah. Ternyata Anastan dan Amoxicillin yang gedenya segaban-gaban itu, bisa berdamai dengan saya. Saya bisa meminumnya tanpa hambatan yang berarti. Kenapa? Karena saya ingin sembuh. That’s it! *big applause please…*

saya menjadi ANKER selama dua hari

Saya mendapat istilah anker dari tetangga saya. ANKER adalah nama kerennya anak kereta (berasa keren aja naik kereta yang punya jalan sendiri tanpa sebel dengar teriakan2 klakson dari kendaraan lain). Kaki saya masih sakit jadi untuk sementara saya menggunakan transportasi kereta untuk menuju ke Jogja. Dari Stasiun Jenar Purworejo, hari Jum’at saya naik Kereta Api Progo yang berangkat dari Purwokerto. Cukup dengan 9000 IDR (bacanya sama kok dengan sembilan ribu rupiah) saya bisa turun di Stasiun Lempuyangan. Kereta ini tidak menurunkan penumpangnya di Stasiun Tugu. Jangan Tanya kenapa, saya tidak tahu.hehehe

Hari Sabtu, saya memilih untuk naik kereta Api Prameks (Prambanan Ekspres) dari Jogja menuju Purworejo. Kereta ini sangat familiar bagi para penglaju (saya bingung Bahasa Indonesianya apa). Jika Anda berangkat dari barat dan ingin menikmati kereta pertama, harus dipastikan Anda sudah berada di Stasiun Kutoarjo (Purworejo) minimal 5 menit sebelum pukul 05. 34 pagi.  Terlambat 5 menit saja, kereta akan berangkat  tanpa ada Anda di dalamnya (pengalaman pribadi saya. hehehe). Kereta terakhir tiba di Stasiun Solo Balapan pada pukul 20. 10. Sedangkan dari arah timur, kereta pertama berangkat dari Stasiun Yogyakarta (Tugu)  pada pukul 04. 20 dan kereta terakhir tiba pada pukul 19.56 di Stasiun Yogyakarta juga. Harga tiketnya juga murah, hanya Rp. 9000, 00 (kalo mau baca dengan bunyi sembilan ribu IDR juga boleh). Dulu saya terheran-heran, What?? Solo-Kutoarjo naik kereta cuma sembilan ribu? *muka dongo*. Namun pikiran saya segera tercerahkan dengan tulisan di loket pembayaran “Solo-Kutoarjo: 18. 000” (maka saya pun ber oooh panjang…). Kereta Api Prameks relatif lebih nyaman daripada Kerta Api Progo. Tempat duduknya berhadap-hadapan, dan tersedia tali pegangan yang bergelantungan di bawah atap, berasa naik kereta di Jepang gitu! :D. Kondisi keretanya pun bersih dan bebas bau yang tidak senonoh. Anda merasa laper dan haus sementara ga bawa makanan? Ouw… jangan sedih… ada penjaja-makanan-keliling-resmi-berseragam yang siap berjalan maju dan mundur (dua orang depan belakang soalnya) mendorong dan menarik  semacam trolley sambil membunyikan lonceng. klinting… klinting…

saya berselingkuh dengan Kebo Merah Jambu

Apa pula sekarang Kebo Merah Jambu? Itu juga nama yang saya berikan kepada sepeda motor Om saya. Karena bentuknya yang segeda bagong, dan warnanya yang pink unyu-unyu gitu, maka tercetuslah nama itu. Saya berselingkuh sementara dengan Kebo Merah Jambu karena kaki kiri saya masih sedikit kaku untuk bisa mengendarai Ranger Merah. Memang jika dibanding Ranger Merah, Kebo Merah Jambu lebih halus suaranya dan getaran ketika di jalan pun tidak begitu terasa. Namun secara sensasi, lebih dapet ketika saya bersama Ranger Merah membelah jalanan raya., yeah! Sensor motorik saya juga tidak bekerja secara optimal ketika saya bersama Kebo Merah Jambu, yang aktif hanya tangan sementara kaki nganggur. Dulu pernah ketika saya mengendarai motor yang bergenre sama, saya sempat panik ketika akanmenginjak rem, karena kaki saya tidak menemukan rem. Sepeda motor jenis ini hanya mempunyai rem tangan, jadi harus beradaptasi dulu. Untung saya tipe gadis supel, jadi dengan cepat saya bisa beradaptasi dengan Kebo Merah Jambu (???). But still, my heart is just for you, Ranger Merah…

can’t wait to see you soon the great Ranger Merah…

March 31, 2011

Me is my medicine

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 8:21 am

Apa yang kalian lakukan ketika sakit datang mendera? Mencari obat, pergi ke dukun, ato diem aja karena itu cuma sakit panu? Tapi saya percaya, walaupun itu cuma se lingkar panu (ukuran panu apa sih?), pasti kita akan berusaha untuk mencari obat penawarnya.

Namun jika sakit kali ini bukan fisik, melainkan psikis, tepatnya hati? Saya rasa mencari obatnya tidak akan semudah mencari kalpanax di warung dekat rumah. Bahkan almarhum Meggy Z lebih memilih untuk sakit gigi daripada sakit hati. Maka dari itu saya berkesimpulan bahwa mencari obat sakit hati menduduki kesulitan setingkat di atas sakit gigi dan dua tingkat di atas sakit panu. Kenapa panu dijadiin perbandingannya sih? Oke..saya delete saja panu dari daftar, saya gantikan kurap. Deal?

Oke, let’s focus on the track. Ya, tiap orang yang punya hati mesti pernah merasakan apa yang disebut sakit hati. Penyebabnya bisa beragam, dan kali ini saya mengambil sampel yang paling masal, cinta. Ehem!

Selama ini banyak korban yang berjatuhan karena cinta. tsaaaaahhhh! Banyak yang sukses mencari penawarnya, tapi gak sedikit juga yang kalah telak. Mereka yang sukses adalah mereka yang dengan ikhlas memaafkan si pembuat sakit hati dan dengan ikhlas juga berjalan tegak ke depan dengan senyum menawan (untuk cowok) dan senyum menawati (untuk cewek). Sedangkan mereka yang kalah adalah mereka yang masih saja berkutat dengan hati mereka yang masih berat memaafkan dan bahkan masih sibuk menyusun cara bagaimana agar rasa sakit hatinya terbalaskan. Ckckckckckck… *geleng2 kepala sambil ngelus2 jenggot*

Pengen tau cara jitu biar sembuh dari sakit hati? Berikut ada beberapa stategi yang bisa dilancarkan ketika sakit hati melanda. Cek ini di luar (baca: check this out)!

>> cari yang lain, anggep angin lalu aja.

>> nyibukin diri.

>> having fun with friends: shopping, karaoke, walking around, or just chatting.

>> nangis sejadi-jadinya, makan sebanyak-banyaknya, refreshing juga.

>> shopping, makan coklat dan segala macamnya, baca novel, nyikatin kamar mandi, beres2 rumah, nyuci n nyetrika, ndengerin lagu yang kenceng, hangout.

>> tuangkan perasaan dalam tulisan.

>> ke gramed baca majalah mobil/ motor/ sport gratisan.

>> belajar dari kesalahan untuk tidak mengulangi kesalahan, menjadi seorang yang jauh lebih baik.

Yup! Those are the medicines yang mana mujarab banget khasiatnya. Semua itu disampaikan langsung oleh para nara sumber yang tidak boleh disebut namanya, they whose name can’t be mentioned. Tapi segimana mujarabnya sebuah obat, kalo kitanya sendiri gak niat mo sembuh, ya susyeh. Udah minum combantrine satu liter pun kalo kita tetep ngebiarin kuku kita panjang2 plus ujungnya item2 dan tiap hari masih asyik masyhuk mainan tanah ato pasir tanpa nyuci tangan sesudahnya, ya teuteup… cacingan. Sembuh: kemauan dan usaha kita sendiri. Me is my medicine.

Enjoy this beautiful world, guys! 😉

 

February 22, 2011

nenek saya yahud!

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 9:38 am

Kemaren baru saja saya nonton film Korea, film lama. The Way Home, itu judulnya. Kisah antara seorang cucu laki-laki dengan neneknya. Mulai dari kenakalan si cucu laki2 yang bikin saya pengen ngetok pala tu cucu laki2 pake tongkatnya Datuk Maringgih (??), sampai pengorbanan sang Nenek yang bikin saya nangis bombay sambil senyum (malu soalnya) sampe  tiga kali. Sekarang saya tinggal bareng Nenek dan Kakek saya. Ah, jadi ingat Nenek saya…Nenek saya ini yahud! Mau tau buktinya?

#Ganti identitas
Bagi Nenek saya, mengganti identitas itu gak perlu susah2 pake jasa orang lain kek di filmnya Russel Crow ‘the next three days’ itu. Ngeluaring duit ber ribu2 dolar buat bikin ID aspal (asli tapi palsu). Bagi Nenek saya, mengganti identitas, dalam hal ini adalah NAMA, ya NAMA! hanyalah dengan menyebutkan nama aslinya di depan petugas pencatat data golongan PNS. Jadi, waktu Kakek saya ngurus surat keterangan golongannya (ada form untuk istri juga), si petugas pengisian form salah menuliskan nama Nenek saya. Dari Rokhimah menjadi Rosiah. Dan sampai tulisan ini anda baca, nama Nenek saya masih Rosiah, belum berubah lagi.

#Bisa lolos rekrutmen anggota CIA (kata Om saya)
Kebiasaan Nenek saya yang suka bikin gemes: nyimpen barang di tempat2 yang tidak terjangkau oleh siapa pun. Teringat pada suatu sore, saya bersama Om saya mau goreng nasi. Seingat Om saya, masih ada telur 1 di lemari. Walaupun dengan keyakinan yang amat sangat, Om saya tidak mendapati telur itu di lemari. Dengan semangat membara, saya pun ikut mencari telur itu hingga titik darah penghabisan. Namun malang, kami gagal mendeteksi keberadaan telur tersebut *muka kecewa sangat*.
— esoknya…–
“lha iki lho endhokeee…!” teriak Om saya sambil menenteng plastik berisi 1 telur. Bisakah anda menebak dimana Om saya telah menemukan telur itu?? #sound effect drum, please…# yak, di bawah tumpukan2 plastik kresek di dalam keranjang yang tergeletak di lantai di samping meja makan (pusing kan?? sama).

#Bisa lolos rekrutmen tim kreatif Honda motor (kata saya)
Waktu itu Nenek saya berkunjung ke rumah saya. Nenek saya memilih untuk dibonceng sepeda motor. Nenek saya memang dulunya supergirl :D. Ketika kami mau berangkat, tiba2 Nenek saya bertanya sambil mengarahkan pandangannya kea rah spedo meter.
Nenek saya : “neng kono kui opo yo biso ndelok jam sisan, Bet?”
Saya          : *muka bingung* “mboten mbah…” sambil nahan ngakak tentunya.
#sub title mode: ON#
Nenek saya : “di situ kita juga bias liat jam?”
Saya           : “tidak mbah…”
See? Coba Mr. Honda di Jepang sana saat itu mendengar pertanyaan Nenek saya, udah pasti Nenek saya akan langsung dipanggil jadi tim kreatifnya Honda untuk produk Honda yang paling mutakhir dengan spedo meter ber-penunjuk waktu.

#Bisa bikin putri pertama beliau, yaitu Ibu saya, tertawa hingga mengeluarkan air mata.
Saya    : “Bun, Mbah putri niku keren nggih?”
Ibu      : ”keren piye Mbak?”
Saya   : ”wingi kan Beti meh adus. Trus teng kulah sing njawi kok onten plastik putih kotak ngambang. Ternyata tempe,  Bun… trus, tak pendhet, tak deleh teng pinggir kulah”
Ibu      : ”lha trus mbah le keren ki maksude opo?”
Saya    : ”sek Bun, dereng rampung le crita… niku lak sonten. eh…ndalune kok tempene kecebur malih? Nggih mpun, disinggahke malih”
Saya    : *ekspresi yang lebih meyakinkan*
“eh…lha kok dinten sanese, Mbah putri ngendika ngaten: Bet, kae ono tempe siji. Mengko  tulung dicemplungke kulah njobo  kae yo… dadine ki sesuk tetep enak, ra kawatir bosok. Banyu kulah kae lak adem, koyo kulkas to dadine..?
Ibu      : *ketawa ngakak sampai mengeluarkan air mata*
Saya    : *guling2*

# subtitle mode: ERROR#

February 1, 2011

my two time machines

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 8:59 am

I have two time machines. Bukan… bukan seperti punya Nobita itu kok. So.. stop ngebayangin saya pake kaca mata, kaos warna kuning sama celana pendek biru trus masuk laci meja belajar dengan ditemani sama sebuah robot kucing dengan suara emak2 cempreng. Hentikan! Selama ini time machine saya yang paling sakti ada dua, yaitu: pagi berangin dan lagunya Vertical Horizon yang Best I Ever Had.

Pagi Berangin

Jika pada suatu pagi antara jam 07. 00 – jam 09. 00 cuaca agak2 mendung berangin, maka langsung saja wuuuuuuuzzzzz….terbanglah ingatan saya ke masa SD kelas 5, tepatnya saat berangkat ke sekolah di suatu pagi. Entahlah, hingga sampai saat usia saya sekarang hampir seperempat abad, perasaan itu selalu muncul. Perasaan ini selalu sukses membawa saya kembali ke masa2 indah dulu, dimana harga lontong dan bakwan masih 50 rupiah, dimana lanting bumbu kacang masih menjadi jajanan mahal, dimana combro super kering (sampai2 saat menggigtnya dibutuhkan tangan kanan dan kiri secara bersamaan untuk menariknya karena saking kering dan kerasnya) made in Nenek Madromi masih menjadi primadona di kalangan teman2 saya . Ah… pagi berangin. Brrrrr

 

Best I Ever Had, by Vertical Horizon

Jika saya tiba2 kangen suasana SMA, langsung saja siapkan Best I Ever Had di play list saya, pencet tombol play, zzzziiiiiiiiiing……! Kembalilah saya ke masa SMA kelas 1, tepatnya ketika suatu malam diantar pulang sama kakak kelas 3. Banyak orang yang punya kenangan terhadap lagu tertentu karena isi lagu tersebut. Saya tidak, tidak dengan isi lagu itu. Dulu, mana tahu saya maksud dari sebuah lagu, Inggris lagi! Enak di telinga, ya udah. Tapi ada satu kejadian dulu. Saat itu ada kegiatan acara tahunan sekolah. Acara baru selesai malam hari. Saya harus menunggu mbak kos saya dulu di depan kelasnya, saya tidak berani pulang sendirian. Kala itu saya hanyalah seorang gadis desa muda belia yang belum tahu kehidupan malam kota kabupaten (baca: nggak pernah keluar setelah habis maghrib). Jadilah saya pulang diantar naik motor sama teman sekelas mbak kos saya. Saya lupa namanya, mas Suluh atau mas Sunu. So.. sampai sekarang saya juga bingung kalo ditanya apa hubungan antara  Best I Ever Had dengan diantar pulang sama kakak kelas yang bahkan saya lupa namanya. 😀

October 8, 2010

no littering, woyy!!

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 9:09 am

Hmmm…lumayan lama juga gak nge-post. Kebanyakan turun hujan siy! (so what?)

Oh iya, sebelumnya, turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa saudara kita di Wasior. Semoga tidak ada lagi kejadian serupa yang menimpa negara tercinta kita Indonesia. Amin…

Mengingat cuaca yang (kata televisi) makin ekstrim akhir-akhir ini, gak ada salahnya kita sebagai manusia menunjukkan rasa cinta kita sama alam. Gak sah muluk2 dulu deh dengan menanam berjuta juta pohon. Lah wong aku nanam pohon cabe aja gak nyampe seminggu udah gak ada kabarnya nasib tuh pohon *menundukan kepala sejenak buat kepergian pohon cabe*.

Kita bisa mulai dari kebiasaan kita sehari hari dulu  deh… Contohnya aja buang sampah. Entah karena kesadaran kita yang udah terkikis ato karena udah jadi satu hal yang lumrah ya? Buang sampah dengan entengnya di jalan, sungai, laut, sampe yang paling ekstrim buang sampah di brankas baja yang pake kode rahasia (buat apa coba?). Buang sampah di tempat sampah tuh kayaknya udah ngelakuin satu hal yang beraaaat banget. Kayak ngelebihin berat badan pesumo wanita Jepang yang lagi hamil 9 bulan trus perutnya kesengat lebah (pesumo wanita ada gak sih?).

 

Ada pernah satu kejadian pas aku sedang dalam perjalanan pulang dari Magelang. Ketika berhenti di sebuah lampu merah, ada serombongan Ibu-Ibu dan anak-anak naik mobil bak terbuka. Melihat dari kostum mereka, bisa dipastikan mereka baru pulang dari rekreasi ke pantai. Hal ini diperkuat dengan kondisi kulit anak-anaknya yang memerah kegosongan sambil menikmati buah bengkoang dengan lahapnya. Si Ibu dengan  santainya mengupas bengkoang di atas mobil dan dengan wajah polos (?) dan tanpa berdosanya, si Ibu membuang kulit bengkoang di sepanjang jalan. Perih rasanya hati ini melihat kejadian itu. *lari-lari nyari Brad Pitt mau pinjem pundak*

 

See? Betapa kurangnya kesadaran manusia di sekitar kita untuk membuang sampah di tempat sampah.  Padahal kan buang sampah di tempat sampah tu sama sekali gak bikin kita rugi. Iya kalo misal kita lagi di dalam bis AKAP, mau buang satu bungkus permen, trus karena gak ada tempat sampah di dalam bis lalu tiba-tiba kita minta diturunin di pinggir jalan buat ngebuang tuh bungkus permen di tempat sampah pinggir jalan, ini baru rugi. Ya iya lah rugi!

tRoozz m4U d!bUw4n9 d’m4n4 duNk b00n9kuZ peRm3nNy44??? (tiba2 segerombolan anak alay muncul)

aaaaaarrrrrgggghhhhhhh… *backsound musik horor*

Ya disimpen dulu aja bungkus permennya. Ntar kalo pas udah nyampe tujuan baru deh nyari tempat sampah buat buang kalian sampah.

 

Kadang kita berpikir, ‘ah cuma bungkus permen aja kok, gak bakalan bikin selokan mampet lah…’

Iya kalo yang berpikiran dangkal seperti itu cuma satu orang. Kalo misal ada seribu orang yang berpikiran sama?? mampet mampet deh tu selokan!

 

Makanya, kayaknya udah gak mempan lagi kalo ada himbauan yang tulisannya kayak gini:

“ no littering, please ” atau “ jangan buang sampah sembarangan ”

 

Harusnya sekarang tulisannya jadi gini:

 

‘‘WOY! JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN WOY!!

AWAS AJA LO!! GW SUMPAHIN JEMPOL TANGAN LO BENGKAK BENGKAK SEMUA! EMANG ENAK GITU UPDATE STATUS FESBUK PAKE JEMPOL SEGEDE GABAN??”

*ketawa setan*

August 17, 2010

bukan sebatang es krim, tapi secangkir mokacino

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 12:46 pm

Tetanggaku punya putri kecil, sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Sekarang usianya sekitar 5 tahun, baru masuk TK nol kecil. Bunga ini pada awalnya suka sekali makan es krim. Saking sukanya sama es krim, hampir tiap hari dia kekeh menyuruh kakaknya untuk membelikan es krim (walaupun toko belum buka). Dan bila mungkin suatu hari dia berhasil mengeluarkan jin dalam botol, sudah bisa dipastikan hal pertama yang dia minta adalah: minta sepuluh bungkus es krim! (untuk ukuran anak TK, punya sepuluh bungkus es krim udah bisa bikin wibawanya naik 150% di antara anak TK nol kecil lainnya).

Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini minat ke-es kriman Bunga menurun. Dari yang tiap hari minta dibelikan es krim, kini jadi tiap 35 hari sekali, tepatnya malam Jum’at kliwon (kagaaak… bo’ong kok…). Ya, Bunga kini sudah bosan dengan es krim. Kira-kira apakah yang terjadi? Apa karena dia terlalu lebay dengan hampir tiap hari makan es krim? Entahlah, hanya Tuhan, Bunga, dan penjual es krim yang tahu… *menghela nafas*

Dan tahukah kawan? Bukan hanya Bunga yang sedang mengalami kebosanan. Sekarang ini seorang temanku juga sedang mengalami sebuah kebosanan.  Tapi kali ini bukan es krim yang menjadi obyeknya. Bosan dengan apa? RELATIONSHIP-NYA. Ya, dia sedang berada pada titik jenuh tingkat kebosanan dengan hubungannya bersama partnernya. Secara kronologis, aku kurang tahu kenapa dia bisa sampai pada titik tersebut. Tapi menurut ilmu sotoyku, ini bukan sebuah rintangan yang beratnya se level dengan badai Elnino bagi mereka. Mereka hanya perlu suasana yang berbeda ketika mereka lagi bareng. Ya, mungkin gaya nge-date mereka. Yang tadinya ketika makan bersama pas lagi nge-date mereka gak suap2an, sekarang coba mereka suap2an bertiga sama tukang parkir (gak bisa ngebayangin tukang parkir yang bolak balik nyuapin – niup sempritan – ngerapihin motor – nyuapin lagi – niup sempritan lagi – ngerapihin motor lagi. Gituuu terus sampe kakek2). Atau mungkin gaya komunikasi mereka, dalam hal ini sms. Yang biasanya mereka nyelipin bahasa Inggris di sms mereka, coba sekarang selipin sandi morse.

Memang terkadang bagi mereka yang sedang menjalin relationship bersama partner mereka, JENUH merupakan suatu hal yang wajar. Jika jenuh itu bisa di recycle dengan baik, ini bisa menjadikan sebuah relationship yang akan terasa lebih segar. Jadi pintar2lah me-recycle kejenuhan tersebut. Mungkin dalam hal ini para pembuat pupuk kompos bisa menjadi guru yang baik. 😉

Tapi tenang kawan, sebuah relationship itu bukan es krim. Yang ketika sudah dibuka musti buru2 dimakan dan ketika udah mencair sudah gak enak lagi untuk dimakan. Relationship adalah secangkir mokacino. Ketika masih panas harus diminum pelan-pelan, dan ketika hangat bisa dinikmati dengan lebih nikmat. Ketika sudah dingin? Bisa dikasih es batu, masukin dalam cangkir. This is it! Secangkir mokacino dingin yang pastinya terasa lebih segar.

Ups, time is up! Aku mau nyari es batu dulu. Mokacino-ku udah mulai dingin nih…^^

July 29, 2010

24 tahun lebih 1 hari

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 9:56 am

Pertama tama, aku mo ngucapin selamat ulang tahun kepada diriku sendiri, yang hari ini genap berusia 24 tahun lebih 1 hari. Bukan suatu perjalanan yang mudah hingga aku bisa mencapai angka itu. Mengingat kondisi dunia sekarang yang sedang mengalami serangan bertubi tubi dari para makhluk penghuni planet mengerikan bernama si-ne-tron. Sekali lagi siiii neeeee troooon… *back sound filem horor*. Belum lagi invasi dari para pasukan A.L.A.Y.  YaN6 g@G banGG3dh iTuwH (mau muntah? aku udah). Oh iya, satu lagi. Kita juga jangan sampai lengah sama para cowok ber-polem (baca: poni lempar). Dengan bermodalkan rambut berponi samping dan bahkan ada yang sampai menutupi matanya (mungkin hair stylish-nya adalah seorang emak2 yang menjadikan korden sebagai inspiratornya), celana kedodoran, mereka dengan tidak berdosanya mengeluarkan suara dari mulut mereka (yang mereka sebut itu: menyanyi) lagu2 YaN6 g@G banGG3dh iTuwH (keyboard secara otomatis jadi alayboard).
See? Begitu banyak halangan dan rintangan yang melewati hidupku, uwoooooohhhhh…

Kedua-dua, saya akan menghaturkan ucapan terimakasih saya kepada mas Mark Zuckerberg yang telah turut serta dalam menghimpun beberapa massa yang menamakan diri mereka (dan saya pastinya) sebagai facebookers. Mas Mark ini dengan gigihnya memberitahukan kepada 451 teman saya. Bayangkan, dengan tanpa mengenal lelah, beliau (tsaaah!!!) ngomong gini: “eh..eh… lo tau gag seeehhh beth andri hari ini ulang taun getow looooohhhhh…” (ternyata Mas Mark juga alay 😀 :D)

Ketiga-tiga, aku persembahkan ucapan terimakasihku pada Eti, Sando, Indar, dan Arda. Mereka adalah anak2 SD usia antara 10-11 taun. Tiap sore mereka mengaji di mushola depan rumah. Gak seperti biasanya, kemarin mereka datang ke mushola siang-siang. Dalam hati pun aku bertanya: apakah setelah menginjak umur 24 tahun, waktu terasa  begitu cepat berjalan? Maghrib jadi datang lebih awal? Aku bingung… aku resah… aku gelisah… owh tidaaakkkk (oke, aku terlalu berlebihan). Back to the topic. Ya, mereka datang ke mushola lebih awal, and guess what?? Mereka bawa kado buat aku. Ih wow, aku terkejuuuttt….!!! Dengan malu-malu mereka ngasih kado itu ke aku. Aku pun dengan gak tau malu menerima dan langsung membuka kadonya. Isinya adalah sekotak wafer coklat. Kata mereka, awalnya pengen ngasih kenang2an, tapi mahal2 harganya, duitnya gak cukup. Ouuuuuuuwwww…. Sumpeh, terharu! *ngelap ingus*.  Thanks kids, wafer coklat is awesome!

ardasando indaretiLast but not least, I also give my thanks for my family. My mom, my dad, my sist, thank you guys! (gaya Agnes waktu nerima piala AMI). Oh iya, kemaren Ibunes lupa kalo kemaren itu tanggal 28, dan beliau membayarnya dengan kecupan sayang di pipi kanan dan pipi kiri ku (padahal tadinya ngarep dibayar sama modem atau blek beri). Weits, hampir lupa. Dapet kado juga dari salah satu pelanggan setia TELKOMSEL: Kangen geNduk *emote pipi merona*.

^^V

July 21, 2010

yes, I am!

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 4:09 am

am I so cute?

Tenang, gak usah pada bingung nyari jawabannya. Berhubung aku adalah seorang yang baik hati, yang gak suka liat orang lain repot (repot ngabisin harta yang berlimpah sama repot nyari ahli waris), maka demikian daripada itu (jangan tanya apa arti ‘maka demikian daripada itu’) aku ngasih ke kalian semua beberapa bukti yang dapat mengantar kalian semua pada sebuah jawaban yang 100% bisa dibuktikan kebenarannya. Gak percaya? Berikut adalah beberapa bukti konkritnya…

fact one: sore hari, di asramanya adekku yang masih SMP

Ketika lagi duduk manis gak pake banget (takut kemanisan) nunggu adekku turun dari asrama, tiba2 ada seorang bapak2 calon wali murid mendekat dan ikut duduk di sebelahku.

si Bapak : dulu tahu sekolah ini dari mana dek?

aku : oh, kebetulan anaknya Om saya ada yang sekolah di sini, Pak..

si Bapak : ooh… betah kan?

aku : Alhamdulillah, karena banyak temannya juga di sini

(berasumsi kalo yang ditanya adekku)

*istri si Bapak menghampiri*

si Bapak : ini lho bu… adek ini juga sekolah di sini

aku : eh? emmm… anu…

si Ibu : oh, iya to? kelas berapa dek?

aku : ???? *ngakak dalam hati*

fact two: Selasa, 20 Juli 2010. Di depan Planet Surf, Ambarukmo Plaza

Aku sama temenku, Uwi lagi nunggu jadwal talk shownya Raditya Dika. Berhubung kami adalah dua orang yang cukup berpendidikan, maka kami meluangkan waktu menunggu untuk membaca novel (cukup berpendidikan dan novel, sepertinya mempunyai korelasi yang sangat kuat, wow!!) sedang asyiknya membaca, tiba2 ada dua orang bule yang sudah cukup berumur menghampiri kami.

Pakdhe bule 1 : hey…apa yang kamu baca? (dengan gaya Cinca Laura pastinya)

Aku : oh, novel, Sir

Pakdhe bule 2 : romance? is it romance?

Aku : no, it’s such kind of biography. Where do you come from, anyway?

Pakdhe bule 1 : hey, you can speak English!

Pakdhe bule 2 : we are from Netherland. Belanda.. Belanda..

Aku : (iye..iye.. gua juga ngarti Netherland itu kumpeni!) *dalam hati*

Pakdhe bule : what’s your name?

Aku : Beti, Sir…

Pakdhe bule : oh, Beti. My name is Ahmad Yusuf, assalamu’alaikum… *bersalaman*

Aku : wa’alaikumsalam

Pakdhe bule 2 : spending time here with reading a novel?

Aku : (so what? kagak pernah liat yang kayak beginian di Belande sono??)

*masih dalam hati*

Pakdhe bule 2 : so, why don’t you just go back to your school?

Aku : school?? *bengong*

fact three: Selasa, 20 Juli 2010. Gramedia Ambarukmo Plaza

Talk show bareng Raditya Dika udah kelar. Kemudian dilanjutkan dengan sesi book signing.

*udah di depan Dika*

Dika : lah, ni udah pada pulang sekolah? kok udah ganti seragam?

Aku : Bang, saya udah kuliah… *tampang meyakinkan, tapi malah terlihat tampang menyedihkan*

Dika : *tampang bingung* oooooohhhh…..

Yeah, demikian beberapa bukti nyata yang bisa merujuk pada jawaban: Yes, I am! *ketawa setan*

catatan:

  1. si Bapak dan si Ibu yang ketemu di asrama, sedang pada puncak bahagia2nya karena anak pertamanya bersedia dimasukkan ke sekolah yang ber-asrama. Orang yang sedang dalam kondisi bahagia, biasanya mengalami sedikit gangguan pada penglihatannya untuk sesaat.
  2. di Belanda, mungkin hanya anak sekolahan yang berkeliaran di Mall dan menghabiskan waktunya untuk membaca novel di depan sebuah toko baju olah raga.
  3. waktu ngasi tanda tangan, Dika gak pake kacamata.

June 28, 2010

horror gila!

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 2:38 am

Aku selalu salut pada orang2 yang memiliki kategori di bawah ini:

  1. Orang yang bisa ngendaliin hawa nafsunya buat gak buka internet selama satu minggu.
  2. Orang yang bisa gak ngasih komentar apa pun ketika sedang nonton infotainment.
  3. Orang yang gak senyum sama sekali pas lagi lihat OVJ.
  4. Orang yang gak mindah channel tivi ketika acara yang sedang diikutinya lagi break iklan (catatan: remote tivi tidak dalam kondisi sedang rusak, tombol channel tivi bisa dijangkau minimal menggunakan kaki).
  5. Orang yang dengan ikhlasnya merelakan uang kembalian nasi goreng: “udah bang, yang enam ribu buat abang aja”

Dan sekarang bertambah satu lagi rasa salutku, yaitu pada:

6. Orang yang dengan enjoynya nonton sinetron Indonesia.

Ikut nangis darah ketika pemeran utama wanitanya dikhianati kekasihnya dengan cara memacari pembantu tetangga (apalagi setelah tahu kalo pembantunya itu seorang pria), atau ikut geregetan ketika pemeran utama lelakinya gak jadi ketemu sama pemeran utama wanita padahal mereka tadinya dalam satu ruangan yang sama (heeeyyy, halooouuuwww…??!)

Salut. Bener2 salut deh!

Kenapa aku memasukkan kategori orangyangsukanontonsinetronindonesia kedalam list tersebut? Ini semua bermula dari sini (jeng jeeeng..!) Hampir satu minggu aku ngendon di rumah. Dan sekedar info, saluran tivi yang nangkring di Polytron 14’’ itu adalah hanya lima stasiun swasta dan satu stasiun nasional. Walhasil acara yang bisa dinikmati pun itu itu aja.

Hari ter horor selama nonton tivi di rumah terjadi pada hari Kamis, 24 januaari 2010. Jam belum menunjukkan pukul delapan malam, tapi rasanya malam sudah begitu larut. (bukan… bukan masalah  malam Jum’at, bukaaannn… lebih horror dari itu deh!) You know what? Semua stasiun tivi (catet, stasiun tivi dalam Polytron 14’’-ku) menayangkan program yang sama, si   ne   tron!

Menit pertama, stasiun I: adegannya tentang dua orang kakak beradik. Sang adik mengalah pada kakaknya karena kakaknya juga mencintai pria idaman sang adik. Padahal diam2 pria tersebut menaruh hati pada sang adik. *garuk-garuk kepala*

Menit kedua, stasiun R: adegannya seorang pria yang membatalkan pertunangannya karena dia melihat salah satu tamu wanitanya  (yang notabene adalah mantannya) hampir pingsan dan akhirnya berlari meninggalkan tempat berlangsungnya acara pertunangan tersebut. *benturin kepala ke tembok*

Menit ketiga, stasiun S: adegannya seorang wanita yang menolak cinta seorang pria (yang padahal dicintainya), karena dia mendengar kabar bahwa sang pria sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita lain (yang padahal wanita itu adalah dia). *ngais-ngais tanah*

Ada adegan yang lebih horror lagi gaaaakkkk???

June 17, 2010

.g.i.f.t.

Filed under: Uncategorized — bethenglish @ 9:40 am

Wuah!

Lama juga gak njenguk rumah kedua ini. Kangen bangeeetttt (ingat, gak pake band!!)

Tercatat postingan terakhir adalah June, 15 2009. Wow! It was a year ago.

And  what happened in ‘that’ year? Emmh so many!

Oke, merunut dari pepatah yang dipopulerkan oleh Master Oogway Kun Fu Pand (yang banyak dikopas bwt jadi status di fesbuk) itu, kali ini aku cuma pengen share tentang porsi ‘gift’ nya saja. Ya, today is a gift.

Ups! Hampir lupa, for your information, udah sekitar delapan bulan ini aku tinggal di kediaman simbahku di Magelang. Kota kecil yang terletak di sebelah utara Jogja, kota dimana Candi Borobudur dengan megahnya berdiri. Walau tidak jarang juga orang yang mungkin dulu waktu SMA nilai Geografinya tiarap, menyebutkan bahwa Borobudur ada di Jogja (hey, kemana aja?).

Yeah, a cute girl with an old Man and an old Lady (panggilan sayang Omku buat mbah akung n mbah uti).

Mbah akung adalah seorang pensiunan guru SD, dan hampir semua putra putri beliau (yang berjumlah 9 orang) diajar beliau ketika SD. Kegiatan beliau sekarang adalah melakukan-kesibukan-apapun-selama-asam-uratnya-tidak-kambuh. Mulai dari menguras kolam ikan, pergi ke sawah, hingga merapikan batu di jalan depan rumah. Mbah akungku ini tidak akan tahan jika sehari saja tidak ngunjuk teh sambil merokok rokok linting. Tehnya pun jika tidak kental, beliau segan meminumnya. Untuk menghasilkan satu gelas teh yang kental, ukuran tehnya sendiri hampir sepertiga ukuran gelasnya (bagi yang sedang diare, boleh meniru sebagai resep mujarab 😉 ) Saking cintanya sama rokok, beliau sampai berikrar ‘‘nek pabrik rokok durung tutup, aku ra’ang mandek ngrokok (selama pabrik rokok belum tutup, aku gak akan berhenti merokok)’’ beuuhhhh… coba kalo salah satu Dirut pabrik rokok terbesar di Kudus sana denger, udah dijadiin Brand Ambassador aja mbah akungku. Hidup mbah akung!

Nah, kalo mbah utiku, hemmm… beliau hobi banget nyuruh orang minum (bikin teh/ kopi) sama nyuruh orang makan. Sehari tiga kali. Jangan harap mbah uti akan berhenti bilang “kono…madhang!” kalo belum pergi ke meja makan, trus makan. Diet? Kui telo dikapakke?? (itu mungkin pertanyaan yang akan dilontarkan mbah uti jika mendengar alasanku). So, dengan berat hati kunyanyikan I am sorry goodbye-nya KD pada diet. hmph…

Satu lagi, menu andalan masak mbah uti adalah santan. Santan is everything in her life. Hingga aku berfikir, jika beliau dulu sempat mengenyam bangku kuliah, bisa dipastikan, di lembar acknowledgement skripsi-nya, beliau pasti menuliskan “thanks to santan, you are my everything, love U so much”. So, bagi kalian yang sekarang shock melihat ukuran tubuhku, bisa disimpulkan siapa oknum yang bertanggung jawab atas semua ini. (sebelum nulis postingan ini, udah sungkem duluan sama mbah uti :P)

Katanya ngomongin hari ini yang kata Master Oogway is a gift, mana gift-nya beth?

Bentaaaar… sabaaaarrr… Ni mau mulai cerita (what? Dari tadi itu belum mulai???)

Huehehehe

Becanda ah!

Jadi, menu hari ini agak sedikit berbeda, yaitu sayur buncis tanpa kuah dan tanpa santan tentunya (horeeeeee!!!!!)

Ada yang bertanya kenapa mbah uti tidak memakai santan?

Hehehe…. In fact, itu tadi dapat hantaran makanan dari tetangga yang sodaranya baru meninggal. Tradisi di sini adalah mengantar makanan ke rumah orang yang ikut takziah ketika ada orang yang meninggal. Dan makanannya pun seperti layaknya orang yang sedang punya hajat, macem macem! Emang si, terkesan gimanaa gitu. But again, it’s a tradition here.

Diambil positifnya aja, sehari ini aku bisa menikmati menu makanan tanpa santan. Coba gini aja terus tiap hari (bukaaaan, bukan tiap hari ada yang nganter makanan dari tempat orang meninggal, bukaaaaaannnn!!!)

Yeah, kesannya apa gitu, sayur buncis aja dijadiin gift. But that’s not the point here. Intinya, gimana cara kita mensyukuri tiap nikmat yang diberi Tuhan. Pengen bahagia? Bersyukurlah.

See? it’s so simple, isn’t it? 😉

Older Posts »

Blog at WordPress.com.